Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Maret 2014

Cerita Rakyat Indonesia Asal Mula Nama Palembang


Dan menjadi cerita turun-temurun hingga cucu-cucu yang saat ini hidup, maka cerita ini kami lestarikan di blog ini supaya anda yang belum mengetahui tentang cerita rakyat asal mula nama palembang anda bisa membaca disi seru banget sobat, untuk cerita rakyat indonesia dimana banyak sekali misteri, yang ada di cerita ini. Untuk itu langsung saja baca di bawah ini Asal Mula Nama Palembang.


Pada zaman dahulu, daerah Su­matra Selatan dan sebagian Pro­vinsi Jambi berupa hutan belan­tara yang unik dan indah.Puluhan su­ngai besar dan kecil yang berasal dari Bukit Ba­ris­an, pegunungan sekitar Gunung Dempo, dan Danau Ranau mengalir di wila­yah itu. Maka, wilayah itu dikenal dengan nama Ba­tanghari Sembilan. Sungai besar yang meng­alir di wilayah itu di antaranya Sungai Komering, Sungai Lematang, Sungai Ogan, Su­ngai Rawas, dan beberapa su­ngai yang ber­­mu­ara di Sungai Musi.Ada dua Su­ngai Musi yang ber­muara di laut di da­er­ah yang ber­dekat­an, yaitu Sungai Musi yang me­­lalui Palembang dan Sungai Musi Ba­nyuasin agak di sebelah utara.

Karena banyak sungai besar, dataran ren­dah yang melingkar dari daerah Jambi, Su­ma­tra Selatan, sampai Provinsi Lam­­­pung merupakan daerah yang banyak mem­­­­pu­nyai da­nau kecil. Asal mula danau-danau kecil itu ada­lah rawa yang di­ge­nangi air laut saat pasang. Sedangkan kota Palem­bang yang dikenal sekarang me­­nu­rut se­­jarah adalah sebuah pulau di Su­ngai Me­layu. Pulau kecil itu berupa bu­kit yang di­­beri nama Bukit Seguntang Mahameru.

Keunikan tempat itu selain hutan rim­ba­­nya yang lebat dan banyaknya danau-danau kecil, dan aneka bunga yang tumbuh subur, sepanjang wilayah itu dihuni oleh seorang dewi bersama dayang-dayangnya. Dewi itu disebut Putri Kah­yangan. Sebenarnya, dia bernama Putri Ayu Sundari. Dewi dan dayang-dayang­­nya itu mendiami hutan rim­ba raya, lereng, dan puncak Bukit Baris­an serta ke­pulauan yang sekarang dikenal dengan Ma­laysia. Mereka gemar da­tang ke daerah Batanghari Sembilan untuk ber­cengke­rama dan mandi di danau, sungai yang jernih, atau pantai yang luas, landai, dan panjang.

Karena banyaknya sungai yang ber­­muara ke laut, maka pada zaman itu para pe­layar mudah masuk melalui sungai-sungai itu sampai ke dalam, bah­kan sampai ke kaki pe­gunung­an, yang ter­nyata dae­­rah itu su­bur dan makmur. Maka ter­jadi­­lah ko­muni­­ka­si antara para pe­dagang ter­masuk pedagang dari Cina de­ngan pen­­­duduk setempat. Daerah itu men­jadi ramai oleh per­da­gang­an antara pen­duduk setempat denga­n pe­dagang. Akibat­nya, dewi-dewi dari kah­yangan merasa ter­gang­gu dan men­cari tempat lain.

Sementara itu, orang-orang banyak datang di sekitar Sungai Musi untuk mem­buat rumah di sana. Karena Sumatra Sela­tan merupakan dataran rendah yang be­rawa, maka penduduknya membuat rumah yang disebut dengan rakit.

Saat itu Bukit Seguntang Mahameru menjadi pusat perhatian manusia karena tanahnya yang subur dan aneka bunga tubuh di daerah itu. Sungai Melayu tempat Bukit Seguntang Mahameru berada juga menjadi terkenal.Oleh karena itu, orang yang telah ber­­­­mukim di Sungai Melayu, terutama pen­duduk kota Palembang, sekarang me­nama­kan diri sebagai penduduk Sungai Melayu, yang kemudian berubah menjadi pen­duduk Melayu.

Menurut bahasa Melayu tua, kata lembang berarti dataran rendah yang ba­nyak digenangi air, kadang tenggelam kadang kering. Jadi, penduduk dataran ting­gi yang hendak ke Palembang sering me­ngatakan akan ke Lembang. Begitu juga para pendatang yang masuk ke Sungai Musi mengatakan akan ke Lembang.

Alkisah ketika Putri Ayu Sundari dan pengiringnya masih berada di Bukit Segun­tang Mahameru, ada sebuah kapal yang mengalami kecelakaan di pantai Sumatra Selatan. Tiga orang kakak beradik itu ada­lah putra raja Iskandar Zulkarnain. Mere­ka selamat dari kecelakaan dan terdampar di Bukit Seguntang Mahameru.

Mereka disambut Putri Ayu Sundari. Putra tertua Raja Iskandar Zulkarnain, Sang Sa­purba kemudian menikah dengan Putri Ayu Sundari dan kedua saudaranya me­nikah dengan keluarga putri itu. Karena Bukit Seguntang Mahameru ber­diam di Sungai Melayu, maka Sang Sa­purba dan istrinya mengaku sebagai orang Melayu. Anak cucu mereka kemudian ber­­­kem­bang dan ikut kegiatan di daerah Lem­bang. Nama Lembang semakin terke­nal. Kemudian ketika orang hendak ke Lembang selalu mengatakan akan ke Pa­lem­bang.dalam bahasa Melayu tua menun­juk­kan daerah atau lokasi. Per­tum­buh­an ekonomi semakin ramai. Sungai Musi dan Su­­­­ngai Musi Banyuasin menjadi jalur per­dagangan kuat terkenal sampai ke negara lain. 

Penulis: M.B. Iman Santoso. 
source : http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/107-asal-mula-nama-palembang 
Sumber: http://rajagombalgokil.blogspot.com/2013/09/cerita-rakyat-indonesia-asal-mula-nama.html

Cerita Rakyat Indonesia Malin Kundang


Untuk itu langsung saja lihat di bawah ini untuk Cerita Rakyat Indonesia Malin Kundang Selengpanya .

hiduplah sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak laki-laki yang diberi nama Malin Kundang. Karena kondisi keuangan keluarga memprihatinkan, sang ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas.
Legenda dari Sumatera Barat.

Maka tinggallah si Malin dan ibunya di gubug mereka. Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan bahkan sudah 1 tahun lebih lamanya, ayah Malin tidak juga kembali ke kampung halamannya. Sehingga ibunya harus menggantikan posisi ayah Malin untuk mencari nafkah. Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.

Setelah beranjak dewasa, Malin Kundang merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya. Malin tertarik dengan ajakan seorang nakhoda kapal dagang yang dulunya miskin sekarang sudah menjadi seorang yang kaya raya.
Malin kundang mengutarakan maksudnya kepada ibunya. Ibunya semula kurang setuju dengan maksud Malin Kundang, tetapi karena Malin terus mendesak, Ibu Malin Kundang akhirnya menyetujuinya walau dengan berat hati. Setelah mempersiapkan bekal dan perlengkapan secukupnya, Malin segera menuju ke dermaga dengan diantar oleh ibunya. "Anakku, jika engkau sudah berhasil dan menjadi orang yang berkecukupan, jangan kau lupa dengan ibumu dan kampung halamannu ini, nak", ujar Ibu Malin Kundang sambil berlinang air mata.

Kapal yang dinaiki Malin semakin lama semakin jauh dengan diiringi lambaian tangan Ibu Malin Kundang. Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.

Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang menimpanya. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.

Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin Kundang setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.
Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu, masuk ke pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.

Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?", katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tapi apa yang terjadi kemudian? Malin Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh.

"Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku", kata Malin Kundang pada ibunya. Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping. "Wanita itu ibumu?", Tanya istri Malin Kundang. "Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan harta ku", sahut Malin kepada istrinya. Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu". Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang.

Sumber: http://rajagombalgokil.blogspot.com/2013/10/cerita-rakyat-indonesia-malin-kundang.html

DENGAN APA KU MEMBALAS IBU

Bu, aku minta uang untuk beli jajan tadikan sudah bantu ibu masak. Spontan lalu ibuku pun memarahiku. Semenjak kecil aku memang dibatasi untuk jajan, kalaupun dikasih pasti ibuku bilang
”untuk ditabung saja! Ngapain jajan terus yang penting sudah makan”.

Dulu ketika aku masih duduk di bangku SMP, aku merasa ibu hanya perduli dengan kakak saja. Apapun yang aku ingin kan tak pernah ibu turuti dengan mudah. Kadang terbesit dipikiranku ibuku pelit ! aku iri dengan temanku yang selalu bercerita kalau ia habis dibelikan baju oleh ibunya, habis pergi kesalon bersama ibunya. Dulu aku hampir tak ada cerita tentang ibuku. Apapun yang aku inginkan aku beli sendiri. Bu, aku ingin baju itu. Bu, ingin pergi kesalon. Kata-kata itu hampir tak pernah ia hiraukan. Bahkan ia memarahiku ketika aku mulai meminta ini itu.
Dengan Apa Ku Membalas Ibu - Cerpen Ibu
Setiap akan pergi ke sekolah ibuku memberiku uang saku 2000 hingga 2500. Itupun masih harus aku tabungkan dicelenganku setiap pulang sekolah. Pikirku, aku punya tabungan juga untuk apa, nantinya aku ambil untuk beli kebutuhanku sendiri. Dan bambu tua itu menjadi tempat penyimpanan uangku yang paling aman. Ya ibuku membuatkanku celengan dari bambu bekas.

“Bu, kenapa tidak ibu belikan aku celengan yang bagus seperti temanku?”. Celengannya lucu berbentuk kucing. Untuk apa nantinya juga kamu hancurkan, manfaatkan barang yang masih bisa dimanfaatkan. Ibu kan sudah buatkan kamu celengan dari bambu” Jawab ibuku sembari menyapu diruang tamu. Lagi lagi aku berpikir ibuku pelit !

Waktu itu penerimaan raport kelas 11 ( SMA) dengan senyum raut wajah yang bahagia ibuku keluar dari kelas, ia memberitahu bahwa aku dapat peringkat 1, bahagia nya aku. Begitu sampai diambang pintu rumah, aku bilang kepada ibuku, “Bu sebagai hadiah belikan handphone yah bu, yang ini sudah rusak, ini juga aku beli sendiri. Normi juga sudah dapat rangking 1”. Aku berpikir dalam hati. Aku yakin ibuku akan membelikan ku handphone. Tapi ternyata aku salah, lagi-lagi aku dimarahi.

“Untuk apa kamu dapat rangking pertama kalau kamu minta hadiah? Pintar untuk siapa? Untuk kamu sendiri. Kalau ingin handphone ya nabung mulai dari sekarang”.
“Kenapa sih kan aku cuma minta dibelikan handphone, temanku rangking 4 saja dibelikan handphone. Yang tidak rangking saja dibelikan ini itu”, jawabku dengan nada tinggi.

Entahlah kenapa ibuku selalu bilang demikian, memang menabung itu bagus tapi aku juga ingin dibelikan. Setidaknya uang tabunganku ingin aku simpan hingga entah kapan.

Tapi kini, setelah hidupku jauh dari ibu, aku mulai merenungkan semua hal yang telah ibu ajarkan kepadaku. Sekarang aku sangat mencintai ibuku bahkan aku anggap ibuku sebagai ibu yang luar biasa. Bisa mendidikku dengan sabar hingga akhirnya aku mengerti kenapa ibuku melakukan semua itu.


Seperti yang aku kutip dari syair lagu IBU _ Iwan Fals
lewati rintangan untuk aku anakmu
Ibuku masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah
“Dengan apa aku membalas “IBU”

Bersyukur terlahir dari rahim seorang ibu yang tangguh dan hangat sepertinya. Ia adalah Wonder Women di keluargaku. Selama 9 bulan aku bernafas didalam perut ibu, dan pada saat itu juga segala keperihan, kesusahan yang ibu alami, dengan tangguh dan sabar ia jalani. Hingga aku pun terlahir ke dunia fana ini.

Ibu maffkan aku. Betapa perdulinya ibu, tapi dulu aku menganggap bahwa ibuku pelit, mengapa bisa aku berpikir demikian, betapa bodohnya aku. Aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya.

Uang sakuku dulu yang hanya 2500 sekarang mengajarkan aku untuk menghargai seberapapun uang yang aku miliki harus aku gunakan sebaik-baiknya. Dan uang yang dulu aku miliki, itupun milik ibu, yang ibu dapatkan dari bekerja susah payah ia mendapatkan uang, aku hanya bisa meminta dan menghabiskan.

Celengan bambuku mengajarkan, untuk memanfaatkan apapun yang masih bisa digunakan untuk tetap bisa dimanfaatkan, mengutamakan apa yang aku butuhkan bukan yang aku inginkan. Kebiasaanku menabung yang dulu membuatku menjadi beban, tapi kini aku terbiasa menabung. Ini mengajarkan aku untuk tidak boros, tidak menghambur-hamburkan uang dengan membeli sesuatu yang tidak perlu dan dengan tabungan ini aku bisa memperhitungkan apa saja jika ada pengeluaran yang tak terduga.

Waktu aku rangking 1 minta dibelikan handphone dan ibuku marah, sekarang aku bisa berpikir aku pandai untuk siapa? untukku sendiri, ilmu yang aku dapatkan ini untuk bekalku kedepan, orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk anaknya. Anaknya pintar itu suatu hadiah untuk orang tua. Orang tua mana yang tidak bangga jika anaknya pandai? Orang tua mana yang tidak mendoakan anaknya setiap saat setiap waktu.

Handphone itu, mengajarkan aku selalu berusaha untuk mendapatkan apa yang aku mau dengan usahaku sendiri. Aku harus berusaha, tidak boleh bergantung kepada orang lain. Siapa yang menjalani hidup ini kalau bukan diriku sendiri, apa jadinya jika aku terus bergantung dengan ibu. Ibu, pastinya tak akan selalu bersamaku.

Ibu maffkan aku, terimakasih ibu, kau telah mengajarkan aku banyak hal. Hidupku sekarang lebih baik dari yang dulu, sekarang aku mengerti semua yang dulu ibu ajarkan bermanfaat untukku sekarang dan mengerti apa artinya bersyukur.

Betapa bersyukurnya aku mempunyai ibu yang sangat menyayangiku. Ingin rasanya terus disisinya memeluknya setiap waktu. Kini setelah aku sadar Tak ada seorangpun ibu yang tak menyayangi anaknya. Tak perduli berapa kali aku membuat ia marah, dengan cara apapun ia akan tetap menyayangiku. Guru terbaik ialah ibu, dokter terbaik ialah ibu. Karena naluri seorang ibu tak akan pernah hilang.

Sudahkan kamu meminta maff kepada ibu mu ? sudahkah kamu bersyukur dengan apa yang kamu miliki sekarang? Sudahkah kamu berusaha untuk apa yang kamu inginkan? Kini aku terus mengingat pertanyaan-pertanyaan itu, agar aku selalu ingat apa yang telah ibu ajarkan kepadaku.

Dan ini lah ceritaku betapa ibu sangat berarti didalam hidupku.
Sumber: http://www.lokerseni.web.id/2014/03/dengan-apa-ku-membalas-ibu-cerpen-ibu.html

Orentasi Study Asmara

Aku tergabung kembali dalam kegiatan ini, sudah tiga tahun berantai aku mengikutinya, ku tahu banyak kegiatan lain yang lebih menguntungkan bagiku, tapi buatku ini berbeda. Aku bahkan rela bangun pagi-pagi, pagi-pagi sekali. Menuju kampus yang jaraknya 19 Km dari kediamanku, tentu sangat dingin udara pagi itu. Ya, sangat dingin, tapi Aku tetap melawannya. Hebat bukan?
Apa yang salah? Tidak ada yang salah. Hanya hatiku yang salah. Ku tahu harusnya hatiku telah beku beradu dingin subuh, kemudian mencair di tusuk mentari pagi dan menguap di kala senja. Aku rehat hanya pada malam hari, setelah Isya hingga menjelang subuh dan setelah subuh harus rutinitas lagi. Walau ini hanya seminggu dalam setahun, namun sangat melelahkan bagi yang tidak terbiasa.
Awalnya Aku sebagai peserta dan tahun berikutnya Aku menjabat sebagai panitia. Orentasi adalah kegiatan memperkenalkan akademika kampus kepada junior-junior yang baru lulus dari penerimaan mahasiswa baru. Trend masa kini Orentasi identik dengan peenganiayaan dan kekerasan. Tapi di kampusku tidak, sungguh tidak. Misi kami ialah membuat mereka selalu tersenyum dalam masa-masa itu. Hasil materi tidaklah Aku dapati dalam kegiatan ini, namun aku tidak mencari hal itu. Aku Puas, puas melihat canda tawa teman-teman, puas menikmati keceriaan pada setiap detiknya, duka bersama, tawa bersama. Sungguh menyenangkan.
Tahun ini ada yang berbeda, ada motivasi besar dalam diriku kali ini. Ada bunga cinta bertebaran di area Orentasiku. Serbuknya ditabur oleh gadis kelompok 7. Ya, kelompok 7. kami membagi peserta orentasi dalam 7 kelompok; ar-rahman, ar-rahim, al-hakim, al-mukmin, al-adl, al-munawir, dan al-fattah. Kampusku berlatar islam; Sekolah Tinggi Agama Islam Natuna, jadi nama-nama kelompok kami buat bernuansa islami.
Gadis al-fattah itu, memandangnya membuatku makin semangat memandu yel-yel, aura menyenangkan selalu tertampil di senyumnya. Tak pernah bosan Aku memandangnya, Ia pun tak pernah absen selama kegiatan walau sehari pun, tak pernah membangkang pada panitia, patuh, taat dan iklas.
Di sela-sela kegiatan yang silih berganti itu, kusempatkan mencuri pandangannya, melirik bad namanya yang terbuat dari karton pelangi, ukuran 30×5 centi meter itu, dikalungkan di leher dengan tali rapia yang dikepang warna biru, bukan itu saja. Dasi yang terbuat dari daun kelapa muda berbentuk kupu-kupu juga terpajang disana, ditemani dot bayi bening yang siap-siap untuk disedot kala kami ingin mengerjainya. Ya, itulah aturan yang kami buat. Itu adalah untuk kesederhanaan dan kesetaraan. Ditambah lagi Tas yang terbuat dari karung beras bekas bertali rapia kepang. Kostum putih hitam; baju putih rok hitam. Jilbab putih dihiasi kupu-kupu dari pita merah putih. “RAHMA” itulah namanya seperti yang kulihat. Kurasa tak mungkin salah karena Aku berkali-kali melihatnya. Tentu Aku tidak salah.
Aku belum mengenalnya, hanya namanya saja. Sosok gadis yang tegar dalam hari-harinya, terlukis pada dirinya. Seberapa pun kami mengerjai junior-junior itu, mereka tak pernah dendam. Begitu juga dia; Rahma. Sering kami mencari-cari kesalahan mereka hanya sekedar untuk dibentak-bentak, menguras mental dan menempa emosi mereka.
Kala azan berkumandang, kami bimbing junior menuju Masjid Agung Natuna, masjid itu menghiasi pemandangan di area Gerbang Utara-Ku, belakangnya berjulang gunung yang ditemani sang awan putih yang berarak-arakan. Tepatnya, 100 meter di depan kampusku. Tidak ada yang boleh menggunakan sepeda motor, hanya boleh jalan kaki; itu termasuk aturan yang harus ditaati. Selepas Sholat, aku tertunduk pasrah cukup lama di hadapan Tuhan, memohon banyak hal kepadaNya, terutama meminta Rahma. Tuhan, hanya kepada Engkau hamba meminta, dan Engkaulah yang biasa mengabulkan segala bentuk doa, mohon izinkan hamba mengenal sosok Rahma lebih dekat, menyelami kehidupannya lebih dalam dan mengetahui asal usulnya. Tuhan, jadikan Rahma tulang rusukku yang hilang, kemudian gegaslah kembalikan padaku secepatnya.

~RAHMA~
Seminggu ini, diriku ditempa, dilatih kedisiplinan, kesabaran dan mengelola emosi. Banyak sekali aturan yang harus kami ikuti; hadir pukul 05.00 pagi dan pulang pukul 17.00 sore, tidak boleh telat dan tidak boleh sedikit pun salah dalam atribut. Tapi aku senang, bahagia dan gembira. Bercanda bersama teman-teman, mengkritik kakak-kakak senior di belakang; ada yang jahil, ada yang pendiam, ada yang wibawa ada pula yang aku kagumi. Itu yang membuat api semangat membara dalam diriku. Aku lupa namanya, dia pernah menyebutnya secara umum di hadapan kami tapi tidak boleh diulang sehingga sulit bagiku mengingatnya, itu juga aturan untuk kami. Diwajibkan kenal dengan 40 orang panitia, namun untuk itu sangat sulit. Hal ini memberi kesempatan pada mereka untuk mengerjai kami. Dia tegar dan selalu tersenyum. kala marah, dia amat manis; itu menurutku. Tidak pernah dia tidak tampak di masa orentasi itu; dialah pemandu yel-yel kami. Membuat kami bersemangat, bergembira dan terhibur. Bahkan dia pun lebih bersemangat saat memandu kami bernyanyi.
Ku tahu kegiatan ini merupakan proses awal memasuki dunia kampus. Ini wajib. Mengikutinya dengan iklas, itulah tujuanku. Aku tak pernah tidak hadir, tidak pernah telat, tidak pernah lupa atribut, tidak pernah membangkang dengan aturan-aturan. Ku tahu, ini untuk pembelajaran. Atribut yang disyaratkan pada kami; pakaian hitam putih, jilbab dihiasi 10 kupu-kupu pita dan bagi pria; kopiah hiitam di lingkari pita merah putih, di leher terkalungkan papan nama dari karton; tertuliskan nama panggilan, dikalungkan pula dot bayi dan dasi dari daun kelapa; bagi kaum wanita berbentuk kupu-kupu dan pria berbentuk menjulur ke bawah. Ransel terbuat dari karung bekas, bertali rapia kepang. Ditambah kaos kaki bola yang berbeda warna; bagi pria harus memasukkan ujung celananya ke dalam kaos kaki itu, sungguh aneh bukan?. Tapi ini demi kesetaraan. Belum cukup hal itu, dalam ransel harus dilengkapi alat sholat, buku pena, piring dan sendok, serta dua buah kaleng susu yang berisi keleng; sangat berisik ketika kami melangkah, berlari dan bergerak. “kreng-kreng, kreng-kreng, kreng-kreng”.
Aku selalu tegar dan tersenyum, ada kekuatan besar dalam dadaku. Pria itu?. Ya, Pria itu; kakak senior yang idealis itu. Bagaimana tidak?, dia menyuruh juniornya untuk merapikan rambut dan kalau tidak?, akan di aut-kan dari orentasi, tapi dia sendiri rambutnya panjang. Panjang sekali malah. Hanya Dia sendiri kakak panitia yang begitu. Ku tahu, itulah khas dirinya, kutahu dia sedang menguji mental kami, “Hal buruk tidak perlu di ikuti” pasti begitu batinnya. Namun disitulah aku menyukainya, terlukis pria yang berpegang teguh pada prinsip, menggambarkan keelokan dirinya yang tidak mau dijajah oleh orang lain, pelajaran yang disampaikannya berbeda. Dia pula telah menyebarkan api asmara di halaman orentasi, dan aku sudah tersambar api itu. Aku tidak dapat mendefinisikan perasaan ini, namun kekuatan itu begitu kuat. Ku ingin selalu dekat dengannya; melihat senyumnya, melihat tawanya, dibimbing bernyanyi olehnya.
Tepat di beranda kampus, berdidri gagah Masjid Agung natuna, menyapa gunung dan melirik awan. Butuh waktu 10 menit berjalan kaki untuk sampai kesana dari kampus. Saat azan tiba, kami berbondong menuju masjid, tidak ada yang boleh bersepeda motor, jalan kaki beramai-ramai. Sungguh mengesankan jika terus berlanjut sampai dimasa kuliah nanti. Agenda saat ini ialah isoma; istirahat-sholat-makan. Selepas solat aku meminta kepada Tuhan, banyak hal dalam doa yang aku utarakan. Tidak dapat aku sanggahi, aku juga meminta pria itu padaNya. Memangnya aku harus memohon kemana lagi selain daripadaNya. Engkaulah yang maha mengabulkan segala permintaan. Ya Rabb… jika memang pria itu orang yang berarti dalam kehidupanku, mudahkanlah jalan kami. Ya Rabb… perkenalkanlah aku padanya, dan pertemukanlah kami dengan caraMu.

~HARI PENUTUPAN ORENTASI~
Tidak seperti biasanya, Penutupan dilaksanakan pada hari kamis; sejak dari senin agenda dibuka, tahun lalu selalu hari sabtu ataupun minggu acara penutupan digelar. Namun tidak masalah. Kami panitia sudah mengikuti kalender akademik dan orentasi harus siap pada hari kamis. Itulah keputusan Kampus. Penutupan digelar ke sebuah pantai, pantai Sujung namanya. “Indah, merona, dan menawan”. Begitu ungkapan para pengunjung wisata di daerah ini. Berjarak 25 Km dari kampus dengan menempuh 46 menit perjalanan menggunakan truk; mobil yang biasanya mengangkut barang. Tanpa penutup. Jika hujan, kuyub semua. Tapi hari itu tidak. Gembira-ria, arak-arakan di atas mobil, bernyanyi, bercanda dan sangat menyenangkan.
Agenda inti di daerah itu adalah upacara penutupan, selepasnya hanya ramah-tamah sesama teman seperjalanan; panitia, peserta dan dosen. Kostum hari itu tidak lagi seperti hari sebelumnya; hitam putih. Tapi kini kostum olah raga, corak orange untuk peserta dan hijau untuk panitia. Atribut tetap di gunakan hingga upacara dibubarkan.
Aku melihat Rahma bersama teman yang lainnya di lesehan yang di buat oleh pengelola pantai khusus untuk para pengunjung. Paling tidak, ada 11 lesehan disana yang dibangun. Satu yang besar kami gunakan untuk alat musik lengkap beserta laskarnya yang siap mengalunkan not-not lagu ke area pantai; tempat hiburan hari ini. Satu yang lainnya digunakan untuk segala macam perbekalan yang kami bawa. Aku menuju ke arah mereka, “paling tidak, hanya bergurau dan bercanda”, batinku. Aku memang sedikit spontan terhadap lawan jenis, perasaanku selalu dibahasatubuhkan dengan jelas. Ku tahu, Rahma sering curi-curi pandang denganku. Karena Aku juga demikian. Ku yakin, dia menyukaiku, itu terlukis dari bola matanya yang sendu dan penuh harapan menatapku, Aku pun demikian adanya. Aku juga tahu, pasti Rahma sudah membicarakan Aku bersama teman-temannya. Mereka semua senyum menggoda melihatku. Rahma juga malu-malu ketika Aku mengakrabkan diri.
“Sudah kenal, kakak?” tanyaku.
“Kak Aris, kan?” jawab seorang temannya. Mereka terkekeh melihat tingkahku yang sok akrab. Maklum aku panitia. Jadi perasaan PD-ku besar. (PD = percaya diri)
“Sedang apa rame-rame gini?”
“Istrahat kak, capek.” Salah satu mereka menyodorkan kue, perbekalan mereka kepadaku. Aku tanpa basa-basi meraih perlahan dan duduk sanjung bersama mereka disana. Rahma diam damai. Malu akan ketahuan perasaannya. Malu ada seorang yang dikaguminya, hingga untuk berkata pun menjadi kelu. Teman-teman Rahma sangat pengertian dan mereka beranjak dari lokasi itu. Tinggallah Aku dan Rahma berdua.
“Rahma, kan?” sapa Ku, menyakinkannya karena bad namanya tidak lagi dipakai setelah upacara tadi. Dia tepat di sampingku. Begitu dekat, sekitar 100 centi. Di Samping kananku.
“Iya, Kak.” Jawabnya pelan.
“Bagaimana Kegiatannya, asyik?” aku memulai obrolan lugas agar tidak kelihatan gugup di depannya. Padahal aku sangat gugup dan nervest karena dialah wanita yang Aku suka, wanita yang menabur bunga asmara di hatiku, wanita yang muncul dalam doa ku, wanita yang menjadi harapanku untuk menjadi tulang rusukku yang hilang. Rahma masih terpaku.
“Asal sekolah dimana?” Tanya ku.
“SMAN 1, Kak.”
“Lulusan tahun berapa?”
“Tahun 2013,”
“Kakak juga SMA 1, tapi tahun 2011.”
“Ohh ya, berarti Rahma kelas satu kakak kelas tiga.” Rahma sudah mulai renyah mengobrol. Aku senyum melihatnya bersemangat.
“Kok tak pernah Nampak?” Tanya Rahma.
“Rahma tak melihat, mana akan tampak,” aku menjawab spontan, ditimpali ketawa rahma yang lepas. Obrolan mulai asyik dan lugas, saling menggali informasi lebih dalam tentang diri masing-masing. Tentang tempat tinggal, cita-cita, hingga berbagi nomor ponsel.
Percakapan itu menjadi batu loncatan awal kisah asmara Aku dan Rahma. Lampu sudah berkedip hijau. Tinggal menunggu pembiasaan dan pengaktifan. Mungkin terlalu cepat untuk Aku nyatakan cinta, mungkin juga akan membuat semuanya kacau. Namun jika aku menunggu lebih lama, khawatir ada yang lain mendahuluiku. Tapi tidak. Aku tak butuh cinta yang terburu-buru. Biarlah dia mencari jati diriku dan Aku mencari tentang dirinya. Aku tidak percaya cinta pada pandangan pertama. Menurutku cinta hadir setelah berkomunikasi dan berinteraksi. Bila tiada komunikasi dan intraksi tiada jua lah cinta. Cinta yang hanya dari pandangan itu nafsu setan, menurut ideologiku.
Aku teringat akan ungkapan dalam sebuah buku, bahwa doa yang diperuntukkan orang yang tidak tahu bahwa dia didoakan, doa itu akan terkabul. Ya, seperti Aku dan Rahma. Doa ku untuknya dan dia Berdoa untukku. Baik aku ataupun Rahma sama-sama tidak tahu bahwa kami saling mendoakan. Mungkin karena doa yang dipanjatkan itu sama, maka keduanya saling tarik menarik di atas langit dan terkabul dengat cepat. Masalah dengan kisah berikut antara Aku dan Rahma, biarlah mahkamah asmara yang menyelesaikannya di bawah naungan Sang Maha Kuasa.
Cerpen Karangan: Siswari
Facebook: Siswari Senju
siswari, mahasiswa prodi ekonomi syariah di kampus SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) NATUNA, tahun 2010.
tinggal di ranai.
Sumber: http://cerpenmu.com/cerpen-cinta/orentasi-study-asmara.html